Saturday, August 13, 2005

Q3 Konseling

How To Listen
(Raymond L. Gorden. tt. Basic Interviewing Skills. FE Peacock Publisher, Inc. Itasca, Illinois)

Dalam pertemuan ketiga (enrichment – Q3) Divisi Konseling NCC pada hari Jumat, 12 Agustus 2005, selama lebih kurang 2 jam Mbak Diah (DKSPM) dan Mbak Lita (RSUD) memberikan pengalamannya tentang ketrampilan dasar konseling. Hal yang ditekankan oleh beliau berdua adalah janganlah berpikir rumit. Ketrampilan ini boleh dimiliki siapa saja, yang penting modal awalnya adalah berminat. Teori yang dipelajari akan bermanfaat bila diawali dengan sikap netral dan siap beradaptasi dengan perkembangan proses konseling di lapangan.

Ada beberapa tahapan yang bisa dicatat dalam diskusi Role Play #1 tersebut, yaitu bangun suasana (building rapport), menanggapi – kontak mata – bahasa tubuh, pengembangan masalah, pengumpulan data, memotivasi, refleksi isi – emosi, dan konfrontasi.

Pada saat itu, penulis teringat rangkuman yang pernah dibuat dalam mempersiapkan konsep pengembangan ketrampilan dasar konseling ini, yaitu HOW TO LISTEN. Raymond L. Gorden dalam bukunya (maaf, dalam fotokopinya tak disebutkan tahun terbit) menyebutkan ada tujuh tahapan seorang konselor memberikan tanggapan terhadap kliennya dalam membangun suasana, yaitu:

1.Kenali Tujuan (know your objectives)
Dengan memahami secara tepat tujuan-tujuan dari forum “curhat” itu dapat menjadi faktor penentu dalam menjelaskan dan menyimpulkan apakah respon dan dialog dari klien bersifat relevan dan lengkap atau tidak sama sekali.

2.Kenali Klien (know your respondent)
Akrablah dengan aksen dan dialek klien, tatabahasanya, dan konteks sosialnya, sehingga konselor dapat dengan lebih mudah memahami maksud klien, sekaligus untuk memperlihatkan ketertarikan dan apresiasi.

3.Perhatian Sejak Permulaan (pay attention from the beginning)
Siapkan sedini mungkin segala apa yang diperlukan dalam interfiu, dan pusatkan perhatian kepada klien sejak permulaan interfiu dilakukan.

4.Kendali Diri (control your urge for self-expression)
Janganlah menyimpang dari tiga aturan emas di bawah ini:
a. hentikan ngobrol yang tak perlu (stop talking)
b. jangan menyela (don’t interrupt)
c. jangan mengubah tema pembicaraan (don’t change the subject)

5.Aktif Menyimak (listen actively)
Usahakan untuk terus memahami makna ucapan klien, lakukan evaluasi setiap informasi klien agar relevan dengan tujuan “curhat”, valid dengan kenyataan, dan evaluasi juga motivasi klien (ingat-ingat: bertanya + tanyakan + konsisten + jujur).

6.Sikap Empatik (listen empathetically)
Jadilah penerima yang sensitif terhadap indikator/petunjuk/tanda-tanda perasaan, sekaligus jadilah pengirim yang responsif terhadap indikator/petunjuk/tanda-tanda perasaan klien. Hal ini penting sebagai bukti bahwa konselor telah mendengarkan dan simpatik terhadap klien.

7.Sabar (be patient)
Konselor sebaiknya mempunyai persiapan atas harapan akan terjadi banyak kesalahan, tapi siap untuk mengkoreksinya. Juga harapan akan banyak terjadi kesalahpahaman dan ketidakpautan (unrelated) dari klien, tapi siap untuk membuat ulangan-ulangan dan jika perlu segera lakukan koreksi! Hindari kendali berlebih dan penghakiman terhadap klien.

Demikian sekilas pengetahuan yang bisa didapatkan dan dibagi dari Q3 ini. Next time will be better (reported by admin)    

Penyuluhan Narkoba dan HIV/ AIDS di Pedukuhan Banggan, Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo

REPORTASE KEGIATAN PENYULUHAN
NAPZA CRISIS CENTER (NCC) KOTA YOGYAKARTA

Nama kegiatan : Penyuluhan Narkoba dan HIV/ AIDS
Hari/tgl pelaksanaan : Minggu, 07 Agustus 2005
Waktu pelaksanaan : 20.20-22.00 WIB
Tempat kegiatan : Pedukuhan Banggan, Ds. Sukoreno, Kec. Sentolo, Kab. Kulon Progo
Peserta : l.k. 50 orang
Mitra : Mahasiswa KKN UPN “Veteran” Yogyakarta


Aktivitas Divisi Penyuluhan Napza Crisis Center kembali berjalan. Minggu, 7 Agustus 2005 Divisi Penyuluhan kembali diundang untuk melakukan penyuluhan tentang penyalahgunaan narkoba dan HIV/AIDS oleh mahasiswa KKN UPN Veteran. Lokasi penyuluhan cukup jauh dari Kota Jogja, yaitu di Pedukuhan Banggan, Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Tim yang diluncurkan pada malam itu adalah mbak Dian (Koord. Divisi Penyuluhan dan Konseling) sebagai pembicara utama dan mbak Peppy (Divisi Media dan Informasi).

Tidak seperti biasanya, malam itu tim NCC tidak langsung meluncur ke lokasi penyuluhan sendiri tetapi dijemput oleh mahasiswa KKN yang mengundang malam itu. Hal ini karena lokasi KKN yang cukup jauh dan demi alasan keamanan di perjalanan. Sekitar pukul 19.00, tim KKN telah datang menjemput dan langsung meluncur ke lokasi KKN. Kami sampai di lokasi penyuluhan, di rumah Bapak Kadus setempat, sekitar pukul 20.10. Ketika kami datang, para pemuda-pemudi yang merupakan peserta penyuluhan malam itu sudah banyak yang datang. Acara malam itu dimulai sekitar pukul 20.20

Tidak seperti acara penyuluhan yang lain, suasana pada awal acara malam itu cukup resmi. Acara dimulai dengan pidato-pidato sambutan baik dari wakil pengurus dusun setempat maupun dari perwakilan mahasiswa. Suasana menjadi sangat kaku (bisa dibilang seperti rapat RW….). Ketika masuk dalam sesi penyuluhan tim NCC berusaha untuk membuat suasana lebih santai, supaya acara dapat berlangsung dengan lebih nyaman.

Sesi dari NCC diawali dengan perkenalan tim penyuluh NCC dan perkenalan singkat mengenai Napza Crisis Center (NCC) Kota Yogyakarta. Seperti biasa, materi perkenalan diberikan oleh mbak Peppy. Setelah perkenalan, disampaikan materi tentang kenarkobaan, penyalahgunaannya yang terjadi selama ini serta dampak-dampak yang ditimbulkan. Walaupun mbak Dian dalam kondisi yang tidak fit dan tidak nyaman akibat asap rokok yang begitu sengak dalam ruangan tersebut, mbak Dian tetap memberikan materi dengan lancar. Pemberian materi kenarkobaan ini dilengkapi pula dengan pemutaran film. Setelah film tentang korban kecanduan narkoba, acara dilanjutkan dengan pemberian materi tentang HIV/AIDS yang disampaikan oleh mbak Peppy. Materi HIV/AIDS juga diberikan karena masalah narkoba dan HIV/AIDS memiliki keterkaitan, hubungan yang cukup erat, bahkan sering disebut sebagai lingkaran setan. Seperti halnya pada materi kenarkobaan, penyampain materi HIV/AIDS ini juga dilengkapi dengan tayangan film tentang penderita HIV/AIDS akibat kecanduan narkoba suntik.

Penyampaian materi-materi tersebut memakan waktu sekitar 60 menit. Acara pun kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Tercatat ada sekitar 12 pertanyaan yang berasal dari empat orang penanya pada malam itu. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul cukup rata antara masalah narkoba maupun HIV/ AIDS. Ada beberapa pertanyaan yang terbilang jarang ditemui dalam penyuluhan-penyuluhan lain, yakni (1) masalah apakah ada keterkaitan masalah politik sebagai latar belakang penjualan narkoba yang marak terjadi di Indonesia, (2) apakah ada unsur motif pembodohan oleh bangsa lain dibalik motif ekonomi oleh para Bandar besar narkoba dalam menjual ke Indonesia, sampai pada (3) bagaimana narkoba itu bisa menjadi suatu transaksi yang cukup besar, dengan omset yang cukup tinggi.

Dalam penyuluhan ini, tim NCC memiliki keprihatinan tersendiri terhadap suasana diskusi yang kurang meriah. Selama acara berlangsung, dari 50 lebih pemuda-pemudi yang hadir, hanya tiga orang yang bertanya (seorang penanya lagi adalah mahasiswa KKN). Sungguh disayangkan apabila mereka tidak segera merubah sikap apatis mereka tersebut terhadap masalah narkoba yang semakin memprihatinkan ini. Semoga mereka pada akhirnya nanti dapat segera menjadi generasi-generasi pembentuk benteng perlawanan terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba di kemudian hari. (reported by p-Py)

Poster Foto Kegiatan

D’ TALEnT SHOW of NCC CREW…………………
Ahad, 07 Agustus 2005


Pada hari Minggu biasanya sekretariat NCC yang terletak dalam kompleks RSUD Wirosaban akan terlihat sangat sepi dan tidak berpenghuni karena libur. Tetapi ini tidak ditemui pada hari Minggu, 7 Agustus 2005 yang lalu. Pada hari itu, sekretariat NCC tampak “hidup” dan ramai seperti hari-hari biasa. Ada apakah ini? Apakah sekarang NCC buka ful-nonstop tujuh hari selama satu minggu?

Bukan karena NCC mulai buka nonstop sehingga ramai pada Minggu siang tersebut. Minggu, 7 Agustus 2005 kemarin, “oknum-oknum” NCC memang sengaja berkumpul untuk membuat dekorasi-dekorasi baru dalam sekretariat NCC. Sekitar pukul 9.30 pagi satu per satu NCC crew berdatangan, baik “bapak-ibu koordinator” maupun juga para volunteer. Tercatat sekitar tujuh oknum NCC yang berjibaku pada hari itu, yaitu mas Amri, mbak Dian, mas Potty, mbak Wita, Mick-co alias Rahmat, Laura dan Peppy.

Kegiatan utama kami siang itu adalah menyusun foto-foto dokumentasi kegiatan-kegiatan yang selama ini hanya tersimpan dalam lemari NCC. Setelah seluruh properti yang dibutuhkan untuk berkreasi tersedia, kami pun mulai berkreasi membuat display-display. Tidak hanya kertas-kertas hias yang lazim digunakan untuk prakarya anak SD yang menjadi objek properti kami hari itu, majalah-majalah usang pun digunakan. Saking niatnya untuk berkreasi dan bereksperimen, bungkus-bungkus makanan pun juga tidak luput dari tangan-tangan kami untuk dijadikan hiasan, seperti bungkus ekstra jos, permen éclairs, dan lain sebagainya.

Ada lima kelompok foto kegiatan yang disusun siang itu, yaitu Simulasi di KHI, Lomba Poster, DMV #2 (DMV #1 nya mana ????????), Rapat Kerja di Tawangmangu, dan HUT #1 NCC. Kreasi oknum-oknum NCC untuk membuat display ternyata cukup lumayan. Ide-ide yang kreatif (dan juga konyol) tampak pada display-display foto yang dibuat.

Pembuatan kelima display foto itu berlangsung sampai sore hari, menjelang maghrib.
Sangat menyenangkan kegiatan hari Minggu itu, santai, penuh guyon, dan mengasyikkan. Menjadi semakin menyenangkan ketika satu per satu display selesai dibuat, ada kepuasan tersendiri pada diri si pembuat (walau ada pula cercaan-cercaan humor yang saling dilontarkan, hehehehehe………….) Sayangnya, masih banyak oknum NCC yang tidak datang. Penasaran dengan display-display foto yang telah diciptakan oleh the NCC crew???? Silakan saja langsung datang ke sekretariat NCC ya………………..


NB: Buat temen-temen DMV lain, masih ada kegiatan kreatif lain yang bakal diselenggarain NCC, so tunggu aja ‘n DON’T MISS IT………
OKAY!!!!!!!

Reported by:p-Py (MIB of NCC)

Sunday, July 31, 2005

Pemberantasan Pekat dan Narkoba di Yogyakarta

Nama kegiatan : Plengkung Gading TVRI
Tanggal : 28 Juli 2005
Pukul : 19.30 – 21.00 WIB
Tema kegiatan : Pemberantasan Penyakit Masyarakat dan Penyalahgunaan Narkoba di Yogyakarta

Narasumber:
H. Syukri Fadholi, SH. (Ketua Badan Narkotika Kota Yogyakarta)
Kombes Pol Condro Kirono (Kapoltabes Yogyakarta)
Heriadi Willy, SH (Ketua I DPD GRANAT Yogyakarta)

Audiens:
Muspika Kota Yogyakarta
Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Yogyakarta
Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Yogyakarta
Dinas Parwisata, Seni, dan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Napza Crisis Center (NCC) Kota Yogyakarta

Hiburan:
Campursari “Banyubening” Minggir Sleman

Tingkat peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba di Yogyakarta semakin hari meningkat, itu dapat dilihat dari semakin besarnya jumlah tersangka yang sudah diamankan oleh aparat kepolisisan di jajaran POLDA DIY. Apalagi melihat kerja keras Pemerintah Kota Yogyakarta, Poltabes Yogyakarta beserta seluruh elemen masyarakat Kota Yogyakarta yang dengan serius dan bertekad kuat untuk terlibat aktif dalam pemberantasan atas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di kota tercinta ini.

Lalu apa yang sebenarnya sudah dilakukan Pemerintah Kota untuk pemberantasan narkoba di Kota Yogyakarta ini? Bahwa pemerintah telah melatih sebanyak 1300 kader anti narkoba berbasis masyarakat yang tersebar di 14 kecamatan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat dari tokoh agama, ibu rumah tangga,dan para remaja yang ada di tiap kelurahan hingga di tingkat RT/RW sekota Yogyakarta, itu juga masih ditambah kader-kader yang berada di tiap sekolah setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Kejuruhan (SMK) sekota Yogyakarta, karena peredaran Narkoba itu tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah maupun aparat kepolisian saja melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, karena pemberantasan narkoba di kota yogyakarta ini merupakan tanggung jawab moral dari seluruh elemen masyarakat yang ada untuk mempertahankan kota Yogyakarta ini sebagai Kota Pelajar, Kota Pendidikan Yang Berkualitas, dan Kota Pariwisata Yang Berbudaya.

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan itu maka pemerintah beserta elemen masyarakat yang ada akan membentuk tim Anti Pekat dalam Gugus Tugas Anti Penyalahgunaan Narkoba di tingkat Kecamatan yang terdiri dari seluruh elemen masyarakat yang ada di masing-masing kecamatan (Camat, Polsekta, Koramil, tokoh masyarakat, LSM dan kader CBN ).

Tidak hanya itu saja yang telah dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk pemberantasan narkoba, mtelah pula dilakukan sosialisasi ke tengah-tengah masyarakat sebagai proses penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba dan disyahkannya PERDA No.4/2004 Tentang Pondokan sebagai upaya untuk menekan tindak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Yogyakarta dan sebagai upaya untuk mengurangi kegiatan-kegiatan yang negatif lainnya.

Aparat kepolisian secara serius akan dan terus melakukan sweping ke tempat-tempat hiburan malam, jalan dan tidak segan-segan untuk melakukan sweping ke kost/pondokan,dan kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh aparat kepolisian yaitu melakukan pendataan terhadap kost/pondokan yang ada di masyarakat untuk mempermudah kontrol dan pengawasan oleh aparat kepolisian. LSM akan selalu mendukung langkah-langkah pemerintah untuk pemberantasan narkoba dan akan selalu berkampanye ke tengah-tengah masyarakat tentang bahaya narkoba ini, karena penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini tidak cukup diberantas dengan omongan tapi harus dengan kegiatan nyata. (reported by Sastro)

Saturday, July 30, 2005

Efektivitas Program Mitra Keluarga PKK dalam Usaha Mengurangi dan Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Generasi Muda

Nama Kegiatan : Siaran Warga Bicara di RBFM
Hari/tanggal Kegaitan : Senin, 25 Juli 2005
Waktu : 10.00-11.00 WIB

Narasumber:
1.Ibu Hesti Yuniarto (Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Tegalrejo),
2.Ibu Atik Sukarno (Ketua Penggerak Mitra Keluarga Kecamatan Tegalrejo), dan
3.Lucia Peppy Novianti (Divisi Media dan Informasi NCC)

Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja saat ini sudah semakin mengkhawatirkan. Pelajar SLTP dan SMU saat ini menjadi sasaran empuk pada bandar narkoba selain kalangan mahasiswa. Para pelajar tersebut masih sangat mudah untuk dirasuki pikiran dan pengaruh-pengaruh, baik yang baik maupun buruk, karena mereka masih dalam proses pencarian jati diri. Para bandar pun memanfaatkan fakta tersebut, mereka menawarkan barang-barang haram di kalangan pelajar dengan mudahnya, dengan pemberian sugesti-sugesti kepada para pelajar tersebut sehingga tertarik untuk menggunakannya.

Upaya preventif untuk mencegah penggunaan narkoba khususnya di kalangan pelajar maupun mahasiswa, akan lebih berhasil apabila dilakukan bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah. Lebih konkret dan mendasar lagi yakni dimulai dari keluarga. Keluarga adalah lingkungan pertama dan terdekat bagi seseorang. Keluarga harus dapat menjadi benteng pertama dan utama bagi seseorang, membentengi masuknya pengaruh buruk pada diri seseorang, termasuk masalah penyalahgunaan narkoba ini. Menyadari hal-hal tersebut, PKK melalui Program Mitra Keluarga memasukkan masalah upaya preventif penyalahgunaan narkoba melalui keluarga sebagai salah satu prioritas masalah yang ditanggulangi dalam Program Mitra Keluarga.

Dalam rangka sosialisasi program Mitra Keluarga PKK Kota Yogyakarta yang juga bekerja sama dengan Napza Crisis Center (NCC) Kota Yogyakarta, Senin 25 Juli 2005 pada acara Warga Bicara di Radio Retjo Buntung mengambil tema tentang “Efektivitas Program Mitra Keluarga PKK di Tingkat Kecamatan dalam Usaha Mengurangi dan Menanggulangi Peredaran Gelap dan Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Generasi Muda”.

Pada kesempatan tersebut, hadir Ibu Hesti Yuniarto (Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Tegalrejo), Ibu Atik Sukarno (ketua Penggerak Mitra Keluarga Kecamatan Tegalrejo), dan Lucia Peppy Novianti (Divisi Media dan Informasi NCC) sebagai narasumber. Dipilihnya Mitra Keluarga Kecamatan Tegalrejo sebagai nara sumber pada kesempatan kali ini karena Program Mitra Keluarga pada wilayah tersebut sudah mulai berjalan, di samping bahwa Kecamatan Tegalrejo merupakan salah satu pilot-project dari Program Mitra Keluarga PKK Kota Yogyakarta.

Dalam kesempatan siaran yang berdurasi 60 menit tersebut dijelaskan bagaimana pelaksanaan program Mitra Keluarga yang telah dijalankan di Kecamatan Tegalrejo selama ini. Dipaparkan oleh Ibu Hesti bahwa sambutan dari masyarakat Kecamatan Tegalrejo, khususnya para ibu, cukup antusias karena dengan adanya Mitra Keluarga ini, mereka merasa memiliki suatu wadah berkonsultasi, berkeluh kesah yang kemudian dapat memberikan suatu solusi atas masalah-masalah keseharian yang mereka hadapi.

Saat ini, program Mitra Keluarga yang sudah berjalan lancar baru di Kelurahan Bener dan akan dilanjutkan ke tiga kelurahan lain di wilayah Kecamatan Tegalrejo, yaitu Kelurahan Tegalrejo, Kelurahan Kricak, dan Kelurahan Karangwaru. Masalah utama yang menjadi kendala saat ini adalah tentang konselor ahli untuk menangani masalah-masalah yang memasuki tingkat serius. Menurut Ibu Atik, syarat untuk dapat menjadi konselor adalah seseorang itu memiliki kemampuan dan kemauan. Yang dijumpai di lapangan selama ini mereka yang memiliki kemampuan justru sering kali tidak mau untuk bergabung bersama Mitra Keluarga, sehingga konselor yang sudah ada masih sebatas mereka yang mau untuk menjadi tempat curahan hati para warga.

Bidang yang menjadi prioritas utama yang ditangani oleh Mitra Keluarga Kecamatan Tegalrejo saat ini adalah masalah pendidikan dan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Bidang pendidikan menjadi salah satu prioritas utama karena banyak warga masyarakat Tegalrejo yang masih tergolong masyarakat kurang mampu, sehingga masalah pendidikan sering diabaikan oleh masyarakat, padahal pendidikan merupakan salah satu hal yang penting untuk masa depan. Masalah narkoba juga menjadi prioritas karena pertambahan jumlah pengguna dan pengedar narkoba saat ini semakin cepat sehingga semakin mengkhawatirkan warga termasuk warga Tegalrejo.

Upaya pencegahan meluasnya peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Kecamatan Tegalrejo dilaksanakan melalui beberapa program PKK maupun Mitra Keluarga ini. Program-program tersebut meliputi pula kegiatan yang melibatkan pemuda-pemudi wilayah setempat dan juga anak-anak kos yang ada di wilayah tersebut. Terdapatnya rumah-rumah kos di wilayah ini juga menjadi catatan dan perhatian tersendiri mengingat tidak sedikit kasus peredaran narkoba yang terjadi di kos-kosan yang sering terungkap. Karenanya, dengan melibatkan anak kos diharapkan upaya pencegahan dapat lebih efektif.

Dalam program Mitra Keluarga di Kecamatan Tegalrejo ini, NCC berperan sebagai rujukan atas masalah-masalah di masyarakat yang berhubungan dengan penyalahgunaan narkoba. Selain itu, selama ini antara NCC dan pemuda-pemudi Tegalrejo juga telah terjalin hubungan yang cukup baik dalam kegiatan-kegiatan preventif penyalahgunaan narkoba, sehingga NCC tidak hanya berperan sebagai instansi rujukan untuk masalah-masalah narkoba saja, tetapi juga ikut aktif berkampanye bersama-sama dengan pemuda-pemudi setempat melalui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. (reported by Peppy)

Narkoba & HIV/AIDS, Ada Apa Dengan Keduanya?

Nama Kegiatan : Penyuluhan Kelompok PKPR
Hari/tanggal Kegiatan : Senin, 18 Juli 2005
Waktu kegiatan : 19.30-21.30 WIB
Tempat : SD Negeri 1 Tegalrejo

Narasumber:
1.Dian Ekawati Kurnianingsih (NCC) memberikan materi tentang “Remaja dan Masalahnya”,
2.Aulia Rokhmah (Tegalrejo) yang memberikan materi “HIV/AIDS dan Permasalahannya di Yogyakarta”, dan
3.Diah Puspita Rahayu (Staf DKSPM & Konselor NCC) memberikan materi tentang “Konseling, Prinsip Dasar dan Aplikasinya”


Ada banyak cara dalam penyampaian informasi tentang penyalahgunaan narkoba dan juga peredaran gelapnya yang saat ini marak terjadi. Salah satunya dengan mengadakan sarasehan dan diskusi panel. Senin, 18 Juli 2005, NCC bersama pemuda-pemudi Kelurahan Bener, Kelurahan Tegalrejo, dan Kelurahan Giwangan mengadakan acara bersama berupa sarasehan dan diskusi panel tentang Remaja dan Permasalahannya seputar AIDS dan Narkoba.

Dalam acara tersebut terdapat tiga pembicara, yaitu Dian Ekawati Kurnianingsih (NCC) yang memberikan materi tentang “Remaja dan Masalahnya”, Aulia Rokhmah (Tegalrejo) yang memberikan meteri “HIV/AIDS dan Permasalahannya di Yogyakarta, dan Diah Puspita Rahayu (DKSPM & Konselor NCC) yang menyampaikan materi “Konseling, Prinsip Dasar dan Aplikasinya”. Adapun moderator pada malam itu adalah Lucia Peppy Novianti, divisi Media & Informasi NCC. Tema sarasehan pada malam itu adalah tentang “Narkoba & HIV/AIDS, Ada Apa Dengan Keduanya?”

Acara sarasehan dan diskusi panel dijadwalkan mulai pukul 19.00, tetapi baru dibuka pada pukul 20.00. Acara diskusi tersebut dihadiri lebih kurang 30 orang peserta.
Pada awal dimulainya acara itu, situasi sangat tidak mendukung. Ketika materi disampaikan oleh nara sumber, para peserta banyak yang tidak terlalu antusias memperhatikan. Hal ini terjadi mungkin karena beberapa pemberi materi pada malam itu telah dikenal dengan dekat oleh peserta atau karena materi yang disampaikan malam itu sudah sangat sering mereka dapatkan, mengingat beberapa audiens juga aktif dalam gerakan anti penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Ketika materi ketiga disampaikan oleh mbak Diah, peserta tampak lebih memberikan perhatian. Mbak Diah mengawali penyampaian materi konseling dengan sebuah cerita nyata sehingga menarik perhatian peserta diskusi malam itu.

Setelah penyampaian materi oleh ketiga pemateri malam itu, acara dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi. Tidak terlalu banyak pertanyaan yang terlontar pada malam itu, tercatat ada lima orang penanya. Pertanyaan-pertanyaan yang banyak muncul yaitu seputar ODHA, bagaimana menyikapi teman dengan ODHA, bagaimana mencegah semakin bertambahnya ODHA, bagaimana keterkaitan HIV/AIDS dan narkoba, dan lain sebagainya. Ada juga beberapa pertanyaan yang menyangkut masalah kesehatan reproduksi dan penyimpangan seksual dalam masyarakat, pertanyaan yang sedikit melenceng dari tema diskusi malam itu.

Acara sarasehan dan diskusi panel malam itu diakhiri pukul 21.30. Kesimpulan yang dapat diambil dari acara ini adalah bahwa harus disadari kerawanan remaja terhadap pengaruh-pengaruh buruk dari luar diri yang dapat merusak diri remaja. Proses pencarian diri yang sedang terjadi dalam tahap perkembangan remaja menjadikan remaja sangat rentan terjerumus dalam pergaulan yang salah. Masalah penyalahgunaan narkoba dan HIV/ AIDS hanyalah sedikit dari hal-hal buruk yang dapat mengancam masa depan remaja. Partisipasi aktif masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mencegah hal-hal negative baik pada remaja maupun masyarakat pada umumnya. (reported by Peppy)

Thursday, July 28, 2005

Gabung yuk...!

Salam Merdeka,

Belasan teman sudah bergabung di Friendster, thanks boyz & gals! Namun belum semua send alamat e-mailnya, plz tolong itu untuk melengkapi addressbook & mempermudah kirim info lewat www.mail.yahoo.com, so segera ya... siapa cepat dia dapat? info dong pastinya... hehehe :-)

Tolong juga situs NCC ini diberitahukan ke teman-teman yang lain, itu semua diadakan dari, oleh, dan untuk teman2 NCC semua. Dengan adanya www.ncc.jogja.go.id + www.napzacrisiscenter.blogspot.com + napzacrisiscenter@yahoo.com + member di FS semoga informasi kegiatan di NCC akan lebih cepat tersebar ke seluruh... dunia! hwahaha...

Udah ah, ntar makin ngelantur 'n nggak jelas
Bye! :-) NCC

Penyuluhan di Desa Ganjuran, Bantul

REPORTASE KEGIATAN PENYULUHAN
Hari/ tanggal kegiatan : Minggu,17 Juli 2005
Waktu kegiatan : 19.30-22.30
Tempat kegiatan : Desa Ganjuran, Bantul, DIY

Minggu, 17 Juli 2005 tim Penyuluhan Napza Crisis Center (NCC) Yogyakarta beraksi kembali. Kali ini, mereka diundang untuk melakukan kampanye tentang penyalahgunaan narkoba dan dampak-dampak yang ditimbulkannya oleh tim KKN Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Lokasi penyuluhan kali ini bertempat di Desa Ganjuran, Kabupaten Bantul. Acara penyuluhan tersebut berlangsung selama lebih kurang tiga jam, dari pukul 19.30 sampai pukul 22.30 WIB. Kegiatan ini pada awalnya hanya dihadiri oleh lebih kurang 25 orang, yang terdiri dari para pemuda desa tersebut dan juga mahasisiwa KKN yang ada, tetapi jumlah itu terus bertambah karena banyak peserta yang terlambat. Tim NCC yang diterjunkan pada malam itu adalah mBak Dian (Divisi Penyuluhan) dan mBak Peppy (Divisi Media dan Informasi).

Berdasarkan jadwal yang sudah disepakati, seharusnya kegiatan kampanye tersebut dimulai pada pukul 19.00, tetapi karena para peserta banyak yang terlambat, maka acara pun baru dimulai pada pukul 19.30. Kegiatan kampanye tersebut berlangsung dalam bentuk sarasehan dan diskusi. Sarasehan dan diskusi malam itu diawali dengan perkenalan diri tim NCC yang kemudian dilanjutkan dengan perkenalan sekilas tentang NCC, apa itu NCC serta kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dan menjadi konsentrasi NCC. Sesi perkenalan ini disampaikan oleh Peppy, yang pada malam itu juga bertindak sebagai moderator dan reporter NCC.

Setelah sesi perkenalan singkat, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang kenarkobaan. Adapun materi yang disampaikan meliputi tentang apa itu narkoba, macam-macamnya, ciri-ciri para pemakai narkoba, serta dampak-dampak yang dapat ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. Penyampaian materi kenarkobaan tersebut diberikan dalam bentuk penyampaian langsung dan juga melalui pemutaran VCD tentang korban overdosis. Para peserta tampak lebih antusias saat penyampaian materi berupa film melalui VCD.

Setelah sesi penyampaian materi kenarkobaan, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Pada awal sesi ini, suasana sempat hening sejenak karena tidak ada peserta yang bertanya walaupun sudah diberi pancingan berupa stiker dan poster yang akan diberikan kepada mereka yang bertanya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ada seorang peserta yang urun suara. Ia adalah salah seorang anggota kelompok KKN bernama Michael. Ia menceritakan tentang pengalaman temannya, sharing, yang adalah seorang pemakai dan bandar narkoba. Mas Michael menceritakan bagaimana teman dekatnya itu kecanduan narkoba dari tingkat yang paling rendah sampai pada jenis dan dosis tertinggi, bagaimana temannya itu yang pada awalnya hanya menjadi pemakai dapat berubah menjadi bandar, dan bahkan ia pun pernah ditawari untuk membeli barang haram tersebut padanya. Dan pada akhirnya, teman dekatnya itu meninggal dunia karena over dosis.

Setelah sharing dari Mas Michael tersebut, kemudian peserta yang lain silih berganti bertanya. Tidak hanya para pemuda Desa Ganjuran itu yang bertanya tetapi juga para anggota kelompok KKN yang juga ikut dalam kegiatan malam itu ikut juga bertanya. Pertanyaan yang dilontarkan pada awalnya masih berhubungan erat dengan masalah penyalahgunaan narkoba tetapi lama kelamaan banyak juga pertanyaan yang terbilang cukup melenceng dari masalah penyalahgunaan narkoba. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari para peserta sarasehan pada malam itu antara lain mengenai apa dan bagaimana terjadinya sakaw, bagaimana hubungan pengguna narkoba dan HIV/AIDS, bagimana cara memutus peredaran gelap narkoba dan pecandu narkoba, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Dari catatan yang kami buat malam itu, ada sekitar lima belas buah pertanyaan yang terlontar.

Suasana sarasehan kampanye pencegahan penyalahgunaan narkoba malam itu santai dan cukup akrab. Suasana canggung dan berjarak antara NCC dengan para pemuda desa hanya berlangsung sebentar, saat di awal pertemuan. Acara juga semakin akrab ketika dalam diskusi terselip humor-humor segar yang membuat suasana semakin ramai. Stiker dan poster yang dibawa oleh tim NCC habis terbagi bahkan kurang karena yang jumlah peserta yang bertanya lebih banyak daripada souvenir yang tersedia.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kegiatan sarasehan penyuluhan anti penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Desa Ganjuran pada malam itu berlangsung dengan lancar dan cukup baik. Animo pemuda-pemudi desa setempat cukup positif. Hal ini terlihat dari sikap yang mereka tunjukan sepanjang acara serta suasana yang terbangun selama sarasehan yang cukup baik. (reported by Peppy)

Wednesday, July 13, 2005

NCC udah di FS...!

Aloo Semua Teman Yang Dah Pernah Browsing Di Sini Diinfokan Bahwa NCC Juga Dah Mbikin Account Di FS, So Add NCC Ya... :-)

Saturday, June 25, 2005

JOGJAPOLITAN - RBTV

Hari & Tgl : Senin, 20 Juni 2005
Tempat : Studio I RBTV
Pukul : 19.30-20.30 WIB
Narasumber:
1. Sunu Saptomo, SH (Ketua Harian BNK Yogyakarta)
2. Kompol Guntur Hindarsyah, SIK (Kasat Narkoba Poltabes Yogyakarta)
3. Wawan (alias, ex-user)
4. Sony RBFM (presenter Jogjapolitan)

Audiens:
Terimakasih kepada Daus, Vivi, Isti, Jauhari, Hakam, Linda dan “pengawal”nya dari Giwangan, Crew Tegalrejo dengan Komandan Andi “Yang Lagi Semangat” (Riko Ceking, Taufik The Wiseman, Sigit Bigbody, Bayu Humoriest, Lia Londo, Rini Cantik, Alfred Cool, Ridwan Ustadz, Risma Rimbar The Cartoonist, Siti Jilbab, dan Deddy BRI), kalian semua bermain bagus malam itu.

Resume:
Acara talkshow interaktif hasil kerjasama Produser Jogjapolitan RBTV dan NCC Kota Yogyakarta ini mengambil tema “Komitmen BNK dan Poltabes Yogyakarta Dalam Rangka Memperingati Hari Perlawanan Terhadap Tindak Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba 26 Juni 2005” dihadiri oleh aktivis dari Tegalrejo, Giwangan, dan Volunteer NCC.

BNK Yogyakarta dibentuk dengan Surat Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 19 Tahun 2004 dengan misi menjamin keterpaduan pelaksanaan kegiatan Pencegahan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Kota Yogyakarta. Untuk itu dibentuk pula struktur internal BNK yang terdiri atas Pokja Promotif & Preventif (Koord. Dinas Dikjar), Pokja Kuratif & Rehabilitatif (Koord. Dinkes), dan Pokja Represif (Koord. Poltabes). Sekretariat BNK di DKSPM.

Kegiatan yang telah, sedang, dan terus dikoordinir BNK antara lain Kader dan Gerakan Anti Narkoba Berbasis Institusi Pendidikan dan Berbasis Masyarakat, Tes Urine 2000 Siswa SMU/SMK, Gugus Tugas Anti Narkoba di 14 kecamatan, dan Rehabilitasi Spiritual Napi LP. Wirogunan.

Poltabes Yogyakarta mempunyai tugas pokok dalam P4GN melalui upaya pre-emtif (penyuluhan, ceramah, dialog, pendekatan dengan elemen masyarakat), preventif (pencegahan, razia), dan represif (selidik, sidik, tuntutan). Perkembangan ungkap kasus untuk Kota Yogyakarta selalu meningkat. Misalnya tahun 2003 sebanyak 86 kasus, tahun 2004 sebanyak 94 kasus, dan hingga Juni 2005 sebanyak 69 kasus.

Diskusi:
Jogjapolitan sebagai salahsatu acara unggulan di RBTV menyediakan layanan interaktif dengan pemirsanya melalui telepon nomor (0274) 541234. Beberapa respon dari audiens dalam acara kali ini adalah sebagai berikut.

Orientasi bandar yang melulu profit (DRUGS DEALER = BISNIS BESAR DALAM KEJAHATAN) selalu mengembangkan trik baru, bisa ditilik dari ungkapan beberapa pabrik narkoba di Tangerang dan Jakarta. Transaksi di lapangan sangat mungkin dilakukan di mana-mana dengan pola “tidak tampak oleh umum”. Dari sekian kasus, rata-rata yang tertangkap tangan adalah penyalahguna (drug user), bukan pengedar (drug dealer). Untuk melakukan penyidikan dan penyelidikan jaringan dari user ke dealer hingga ke bandar gedenya (bede) diperlukan sekian banyak “saksi” dan setumpuk bukti. Hal itu memakan waktu yang cukup lama. Pada pertengahan bulan Januari 2005 Poltabes Yogyakarta berhasil menangkap bandar kelas kakap yang beroperasi di Jateng dan DIY dengan BB 614 butir ekstasi, 58g SS, dan 2,1g PT. Prestasi tersebut memerlukan waktu persiapan 6 bulan! (Radar Jogja, Senin 17 Januari 2005, hal.01,11).

Penyalahgunaan narkoba menyerang semua lapisan masyarakat. Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan dan Kota Wisata Yang Berbudaya harus menangkal serangan tersebut karena efeknya sangat besar terhadap masa depan kemakmuran Kota Yogyakarta. Oleh sebab itu, fokus dari penumbuhan kader tersebut adalah generasi muda, remaja usia sekolah, sebagai tindakan preventif semata-mata untuk menjamin masa depan generasi muda yang masih panjang.

Menanggapi perkembangan status penyalahgunaan narkoba di Yogyakarta yang kemudian menjadi kekhawatiran orangtua mengirimkan putra-putrinya belajar ke Yogyakarta, menurut Sunu Saptomo, SH bahwa Pemerintah Kota telah dan terus secara gencar melakukan kegiatan bersama elemen masyarakat, misalnya penumbuhan gerakan dan kader berbasis institusi pendidikan dan masyarakat tersebut, juga melakukan shock therapy melalui tes urine pelajar, dan juga berbagai penyuluhan dialogis di sekolah-sekolah untuk mendorong pelajar dapat mengantisipasi perkembangan pergaulan dengan teman dan lingkungannya. Oleh karena itu, tegas Sunu, orangtua tidak perlu khawatir.

Kader CBN, nama gaul dari kader anti narkoba berbasis masyarakat, sebanyak 1300 orang didominasi generasi muda (hampir 90%). Efektivitas kegiatannya akan semakin dioptimalkan dengan akan dibentuknya Gugus Tugas di tingkat kecamatan yang mengkoordinir kegiatan sosialisasi-kampanye, kaderisasi, pendampingan, dan investigasi kader ditingkat kelurahan. Para kader yang telah dibekali pengetahuan dasar telah dapat menggerakkan potensi lokal di daerah masing-masing dengan label CBN-nya tersebut.

Sebagai misal kader CBN di Wijilan (sumber dari Ibu Lies) selama 6 bulan terakhir giat melakukan sosialisasi Perda DIY No.3/2000, yang akan dilanjutkan dengan gerakan moral berupa tandatangan para warga yang peduli dan prihatin dengan sikon yang sedang terjadi di kawasan Alun-alun Utara dan Selatan. BNK sangat mendukung kegiatan seperti itu, antara lain dalam bentuk pemberian dana stimulan yang dikoordinir di Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (DKSPM).

Dalam acara Jogjapolitan kali ini yang digagas bareng antara NCC dan RBTV juga menghadirkan seorang ex-user. Mas Wawan, demikian ia minta dipanggil, mulai mengenal narkoba dari pergaulannya semasa kelas 2 SMP awal tahun 1990-an. Mula-mulanya mengkonsumsi pil koplo, terus meningkat sesuai dengan tingkat pergaulan dan rasa ingin mencoba hingga terjerat putaw. Semua barang didapatkannya dari teman. Dari jumlah 1g (1 gauw) hingga 10g per harinya, sehingga sempat terbersit untuk sekalian jadi pengedar. Latar belakang dari semua itu ternyata adalah kejenuhan yang dirasakannya selalu menghantui, baik saat di rumah maupun di sekolah. Dampaknya adalah harta benda keluarga Mas Wawan yang terbang entah kemana. Meski demikian, perhatian dan dorongan dari Ibu dan Istri yang menerima apa adanya Mas Wawan, menjadi penambah semangat dan niat Mas Wawan untuk lepas dari jerat narkoba. Diperlukan proses perjuangan selama 10 tahun terasing dari keluarga, melawan dan mengalahkan SIFAT BOHONG, memupuk semangat untuk sembuh, merupakan modal Mas Wawan untuk bisa kembali kedalam keluarga intinya. Maka pada kesempatan ini Mas Wawan berpesan kepada kita semua “Jauhi Narkoba! Putaw itu Sampah”.

Wednesday, June 22, 2005

Advokasi Penderita HIV-AIDS

Hari & Tgl : Rabu, 15 Juni 2005
Tempat : RM Adem Ayem Jl. Jend. Sudirman Yogyakarta
Narasumber:
1. Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Yogyakarta
2. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional
3. Jaringan ODHA Yogyakarta

Resume:
Dihadiri oleh perwakilan dari lembaga dan instansi pemerintah pengambil keputusan, antara lain Komisi Penanggulangan AIDS DIY, Komisi D Dewan Kota Yogyakarta, Direktur RSUP Dr. Sardjito, Panti Rapih, Bethesda, dan PKU Muhammadiyah, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Yogyakarta, Bappeda, Kantor Humas dan Informasi, Dinas Dikjar, Depag, Bagian Hukum, Dinas Ketertiban, Poltabes, BKKBC, BNK, PKBI, JOY, LP3Y, Hana, PMI, Napza Crisis Center Kota Yogyakarta, DIU, Dinas Kesehatan Propinsi DIY, pertemuan sehari ini mendiskusikan 3 materi dan ditutup dengan penyimpulan.

Latar Belakang:
Beberapa penelitian menyebutkan persentase remaja yang melakukan sex pranikah mencapai 20-30%. Menurut Dr. Boyke DN angka insidensi remaja-sex cenderung semakin tinggi, yaitu pada tahun 1980-an baru sekitar 5% namun pada tahun 2000-an ini menjadi 20-30% dengan mayoritas usia pelajar SMA atau PT. Mulai banyak bermunculan fenomena yang mengindikasikan Yogyakarta sebagai kota yang marak dengan sex bebas. Stigma yang sudah lama menempel bahwa Yogyakarta adalah Kota Narkoba. PSK baik pria maupun wanita tersebar di penjuru kota. Pecandu narkoba suntik (IDU’s) mempunyai andil yang dominan terhadap kasus HIV di Yogyakarta. HAL INI SEMUA MENJADI PERTANDA BAHWA KELUARGA DAN NILAI-NILAI NORMATIF MENGHADAPI SEKIAN BANYAK TANTANGAN. BELUM LAGI PERKEMBANGAN MENTAL REMAJA YANG DEMIKIAN LABIL.

Data Surveilans:
Tahun 1999 = 0 kasus, 2000 = 1 kasus, 2001 = 4 kasus, 2002 = 7 kasus, 2003 = 13 kasus, dan 2004 = 14 kasus (status responden = PSK). ARTINYA HIV-AIDS DI YOGYAKARTA NYATA ADANYA!

Simpulan:
1. Yogyakarta Bersih Wujudkan Nyata!
2. Diperlukan adanya perda di tingkat propinsi.
3. Media komunikasi gerakan bersama menggunakan Information Center di tingkat propinsi, a.l. melalui media hotline service.
4. Target Voluntary – Counseling – Test harus dijabarkan melalui pokja di masing-masing unit teknis dan berkoordinasi dengan LSM Pendamping.
5. Tatalaksana ODHA dalam pengobatan yang tepat dan segera melalui protokoler yang sudah ditetapkan.
6. Pemerintah Daerah dituntut perannya sebagai pengatur, pengarah, dan fasilitator kepedulian warga dan LSM yang peduli HIV-AIDS.
7. Promosi penanggulangan HIV-AIDS yang terpadu dan terkoordinir dengan melibatkan seluruh stakeholder.